MPN News, JAKARTA
- Pelindo Regional
2 menegaskan komitmennya dalam memperkuat budaya Keselamatan dan Kesehatan
Kerja (K3) sebagai fondasi utama operasional pelabuhan nasional.
Komitmen
tersebut disampaikan dalam upacara peringatan Bulan K3 Tahun 2026 yang digelar
di Ruang Serbaguna Pelindo Regional 2 Tanjung Priok, Jakarta. Kamis (22/1).
Upacara
peringatan Bulan K3 ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, antara
lain Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Utama Tanjung Priok,
jajaran manajemen Pelindo Regional 2, serta seluruh anak perusahaan Pelindo
yang beroperasi di wilayah Tanjung Priok.
Plh
Executive Director 2 Pelindo Regional 2, Budi Prasetio, dalam sambutannya
menegaskan bahwa kecelakaan kerja tidak dapat lagi dipandang sebagai insiden
teknis semata, melainkan sebagai alarm keras atas masih adanya celah dalam
sistem keselamatan yang harus dibenahi secara menyeluruh dan berkelanjutan.
“Setiap
kecelakaan kerja adalah sinyal bahwa masih ada proses yang tidak aman,
peralatan yang tidak layak, pengawasan yang belum optimal, serta budaya K3 yang
belum sepenuhnya mengakar. Ini bukan semata kegagalan teknis, melainkan
kegagalan sistem,” ujar Budi melalui keterangan tertulis.
Ia
menambahkan bahwa tantangan pengelolaan K3 saat ini tidak hanya tercermin dari
angka kecelakaan, tetapi juga bersifat struktural.
Kualitas
dan pemerataan layanan K3, menurutnya, masih perlu terus ditingkatkan agar
sebanding dengan luas wilayah kerja, kompleksitas aktivitas pelabuhan, serta
keragaman sektor usaha yang dilayani Pelindo.
Selain
itu, pendekatan K3 yang masih terfragmentasi antar unit dan antar pemangku
kepentingan juga menjadi perhatian. Padahal, risiko kerja tidak mengenal batas
administratif dan dapat berdampak lintas wilayah maupun lintas fungsi.
“Keselamatan
kerja harus dikelola sebagai satu kesatuan sistem. Karena itu, pendekatan
parsial atau reaktif tidak lagi relevan. Kita membutuhkan lompatan cara
berpikir dan cara kerja, dengan menempatkan keselamatan sebagai prioritas utama
dalam setiap pengambilan keputusan,” jelasnya.
Budi
juga menekankan pentingnya menjadikan pendekatan promotif dan preventif sebagai
arus utama pengelolaan K3. Investasi pada pencegahan terbukti jauh lebih
efisien dibandingkan biaya penanganan kecelakaan dan dampak lanjutan yang
ditimbulkannya.
Lebih
lanjut, profesionalisme dalam pengelolaan K3 harus tercermin dalam pengambilan
keputusan berbasis data, keberanian menghentikan praktik kerja yang berisiko.
Selain
itu,konsistensi menjadikan keselamatan sebagai bagian integral dari sistem
manajemen perusahaan, bukan sekadar kewajiban administratif. Membangun
ekosistem K3 berarti membangun keterhubungan yang utuh antar seluruh pemangku
kepentingan.
"Pemerintah
sebagai regulator, dunia usaha sebagai pelaksana, pekerja sebagai subjek utama,
serta akademisi, asosiasi profesi, dan media sebagai penguat literasi dan
kesadaran publik, harus bergerak dalam satu arah tujuan, yakni mencegah
kecelakaan dan melindungi pekerja,” tutup Budi.
(Redaksi MPN News/Sony H. Sayangbati).


0 comments:
Posting Komentar