Sabtu, 07 Februari 2026

UMIMAX Pertamina, Jalan Ninja Pelaku Usaha Kecil Jadi Besar



MPN News, Jakarta, 7 Februari 2026 – PT Pertamina (Persero) melalui program tanggung jawab sosial lingkungan (TJSL) menginisiasi Program UMiMAX, alias Ultra Mikro Pertamina Aksi. Program ini dikhususkan untuk masyarakat yang perlu membuka usaha dengan skala sangat kecil (ultra mikro) untuk mendukung perekonomiannya, seperti karyawan yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) atau masyarakat kurang mampu. 

"Saya adalah mahasiswa kesehatan. Ketiga adik saya juga masih sekolah, bahkan ada yang baru masuk TK. Alhamdulillah sejak gabung dengan UMiMAX, saya sangat terbantu untuk membayar biaya kuliah dan sekolah," jelas Tasya Putri, salah satu pengusaha UMiMAX dengan dagangan Kopling (Kopi Keliling) di wilayah Pengadegan, Jakarta Selatan. 

Ditemui di sela acara Silaturahmi Penerima Manfaat UMiMAX yang digelar di Taman Tebet, Jakarta, Sabtu, 7 Februari 2026, Tasya bersyukur ia bisa bergabung menjadi mitra UMiMAX. 

Menurutnya, langkah ini menjadi berkah, bahkan ia bisa membiayai kuliah untuk dirinya sendiri dan sekolah ketiga adiknya. 

Tasya bercerita bahwa sebelum bergabung menjadi mitra, ia menjual gorengan namun omzetnya tidak memadai. Oleh karenanya ia tidak ragu mendaftar ketika mendapatkan informasi menjadi mitra UMiMAX.

"Setelah menjadi peserta UMiMAX, saya bersyukur bisa mendapatkan gerobak yang bagus, disertai dengan perlengkapan membuat kopi. Saya menjadi mitra sejak tahun 2025 lalu, omzet penjualan saya pun meningkat dua kali lipat," ungkapnya.

Pendapatan awalnya, jelas Tasya, berkisar Rp400 ribu hingga Rp600 ribu. Saat ini, ia bisa mengantongi hingga Rp800 ribu sampai Rp1,2 juta per hari.

"Terima kasih kepada Pertamina, berkat program UMiMAX ini, saya yang tadinya hampir putus kuliah, bisa terus berkuliah. Saya bahkan berharap bisa melanjutkan sampai tingkat S2," harapnya.

UMiMAX merupakan program baru Pertamina untuk mendorong pemberdayaan pelaku usaha mikro melalui dukungan usaha (productive in kind), pendampingan dan penguatan kapasitas pemasaran. Program ini telah berjalan sejak tahun 2025. Hingga saat ini, UMiMAX telah memiliki 168 orang Penerima Manfaat, yang terdiri dari 65 UMiMAX Warmindo (Warung Makan Indomie), 63 UMiMAX Kopling (Kopi Keliling), dan 40 UMiMAX Mini ATM (Anjungan Tunai Mandiri).

UMiMAX tersebar di 6 wilayah, yakni Bandung, Tangerang Selatan, Tangerang, Jakarta, Subang dan Karawang.  

Corporate Secretary PT Pertamina (Persero) Arya Dwi Paramita berharap, UMiMAX bisa mendukung peningkatan ekonomi masyarakat terutama yang membutuhkan dukungan usaha untuk hidup berdikari dan berdaya.

"Melalui program ini, Pertamina memberikan dukungan kepada masyarakat. Kami berharap upaya kami ini juga didukung dengan para mitra pelaku usaha, dengan terus bersemangat agar mitra UMKM semakin tangguh dan berdaya," jelas Arya. 

Pada kegiatan silaturahmi tersebut, Pertamina mengajak para mitra UMiMAX untuk berdiskusi dan berbagi tips usaha. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bentuk monitoring, evaluasi, dan apresiasi atas capaian program. Sekaligus untuk melihat dampak nyata program di lapangan, berdialog dengan penerima manfaat, serta memberikan apresiasi kepada para mitra.  

"Pertemuan ini dihadiri oleh semua pihak, sehingga bisa saling bertukar informasi, memperbaiki kemandirian ekonomi dan mudah-mudahan bisa semakin berkembang satu sama lain," ujar Arya.

Acara ini dihadiri oleh puluhan mitra UMiMAX, serta Manajemen Pertamina. 

Pertamina sebagai perusahaan pemimpin di bidang transisi energi, berkomitmen dalam mendukung target Net Zero Emission 2060 dan terus mendorong program-program yang berdampak langsung pada capaian Sustainable Development Goals (SDGs). Seluruh upaya tersebut sejalan dengan transformasi Pertamina yang berorientasi pada tata kelola, pelayanan publik, keberlanjutan usaha dan lingkungan, dengan menerapkan prinsip-prinsip Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasi Pertamina, berkoordinasi dengan https://w

ww.danantaraindonesia.co.id/.



Sonny H. Sayangbati

Biorefinery Cilacap, Mengolah Jelantah menjadi Bioavtur untuk Langit Biru Indonesia

 



MPN News, Cilacap, 8 Februari 2026 – Pertamina terus memperkuat perannya dalam mendukung transisi dan swasembada energi nasional melalui pengembangan Proyek Bioavtur/Biorefinery Cilacap yang memproduksi Sustainable Aviation Fuel (SAF) berbahan baku Used Cooking Oil (UCO). Proyek ini merupakan kelanjutan dari keberhasilan Phase 1 Revamp TDHT Cilacap yang mengolah bahan baku minyak jelantah menjadi SAF melalui skema co-processing.

Dengan pembangunan Biorefinery Cilacap Phase 2, kapasitas produksi SAF yang sebelumnya mencapai 27 kiloliter per hari akan meningkat signifikan menjadi 887 kiloliter per hari pada tahun 2029.

Pengembangan Biorefinery Cilacap dilakukan secara bertahap sebagai bagian dari upaya Pertamina dalam mengurangi ketergantungan terhadap avtur berbasis fosil, sekaligus menjaga ketahanan pasokan energi aviasi nasional secara berkelanjutan.

Direktur Strategi Portofolio dan Pengembangan Usaha Pertamina, Emma Sri Martini, menegaskan bahwa proyek ini memiliki nilai strategis yang kuat, baik dari sisi ketahanan energi, ekonomi, maupun keberlanjutan lingkungan.

“Biorefinery Cilacap merupakan program strategis dari Bapak Presiden Prabowo dan juga Danantara sejalan dengan Program Asta Cita Pemerintah khususnya nomor 2 terkait swasembada energi, hilirisasi dan industrialisasi, serta program pemerataan ekonomi dan pemberantasan kemiskinan,” ujar Emma dalam Groundbreaking Biorefinery Cilacap pada Jumat, 6 Februari 2026. 

Lebih lanjut Emma menjelaskan, pengembangan bioavtur di Cilacap memiliki peran penting yang akan membuat posisi Indonesia memiliki bargaining position untuk bisa menciptakan swasembada energi, meningkatkan daya saing dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Emma menegaskan Biorefinery Cilacap juga merupakan salah satu dari lima Proyek Hilirisasi Danantara di Sektor Energi, serta selaras dengan strategi Dual Growth Pertamina dalam mengembangkan bisnis rendah karbon tanpa mengabaikan penguatan bisnis eksisting.

Untuk memastikan keberlanjutan dan daya saing rantai pasok SAF, Pertamina membangun sinergi lintas pemangku kepentingan dari hulu hingga hilir, mulai dari regulator, penyedia bahan baku, produsen, hingga offtaker sebagai pengguna akhir. Sinergi ini bertujuan menciptakan ekosistem SAF yang terintegrasi, berkelanjutan, dan berdaya saing global.

Pengembangan SAF melalui Biorefinery Cilacap juga memberikan multiplier effect yang signifikan. Dari sisi ekonomi, proyek ini berpotensi memberikan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto nasional hingga Rp199 triliun per tahun. Dari sisi lingkungan, pengembangan SAF berkontribusi pada pengurangan emisi karbon hingga 600 ribu ton CO₂ per tahun. Sementara dari sisi sosial, proyek ini mendorong penyerapan tenaga kerja sekitar 5.900 orang dan berkontribusi terhadap target TKDN sebesar 30 persen. Pertamina juga menjalankan program pengumpulan minyak jelantah dari masyarakat melalui beberapa Bank Sampah Beo Asri, diantaranya yang berlokasi di Kelurahan Tegalreja Kabupaten Cilacap yang terdiri lebih dari 2.900 Kepala Keluarga.

“Ini salah satu proyek percontohan yang cukup lengkap, banyak sekali multiplier effect yang kita peroleh. Bisa mengurangi impor, mengurangi current deficit, bisa menciptakan lapangan pekerjaan, menjadi energi hijau yang bisa mengurangi karbon emisi serta sekaligus mengurangi polusi juga yang membuat paru-paru kita sehat,” imbuh Emma. 

Melalui pengembangan Biorefinery Cilacap, Pertamina menegaskan komitmennya untuk terus mendukung ketahanan dan kemandirian energi nasional sekaligus mendorong percepatan transisi energi yang inklusif dan berkelanjutan.

“Pengembangan Biorefinery Cilacap menjadi fondasi jangka panjang bagi penguasaan teknologi, peningkatan daya saing bangsa, serta wujud sinergi seluruh elemen dalam membangun masa depan energi yang berkelanjutan,” tandas Emma.

Pertamina sebagai perusahaan pemimpin di bidang transisi energi, berkomitmen dalam mendukung target Net Zero Emission 2060 dan terus mendorong program-program yang berdampak langsung pada capaian Sustainable Development Goals (SDGs). Seluruh upaya tersebut sejalan dengan transformasi Pertamina yang berorientasi pada tata kelola, pelayanan publik, keberlanjutan usaha dan lingkungan, dengan menerapkan prinsip-prinsip Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasi Pertamina, berkoordinasi dengan https://www.da

nantaraindonesia.co.id/. 



Sonny H. Sayangbati

HPN 2026: Pelindo Regional 2 Banten Tegaskan Transformasi Pelabuhan Ciwandan sebagai Simpul Logistik yang Memberi Dampak Nyata Bagi Masyarakat







MPN News, SERANG (07/02)* – PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 2 Banten menegaskan peran Pelabuhan Ciwandan sebagai simpul logistik strategis yang tidak hanya menopang aktivitas industri, tetapi juga menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat Banten dan kepentingan nasional. Komitmen tersebut disampaikan oleh General Manager Pelindo Regional 2 Banten, Benny Ariadi, dalam Seminar Infrastruktur pada rangkaian peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026.

Dalam seminar bertajuk “Inovasi Pengembangan Pelabuhan Ciwandan untuk Kemanfaatan Masyarakat Banten” yang digelar di Ballroom Hotel Aston Serang, Sabtu (7/2), Benny memaparkan arah transformasi Pelabuhan Ciwandan yang kini berkembang dari pelabuhan kargo curah industri menjadi pelabuhan multifungsi dengan peran yang semakin inklusif dan berkelanjutan.

Transformasi tersebut diarahkan untuk memperkuat konektivitas logistik, meningkatkan efisiensi layanan kepelabuhanan, serta membuka ruang manfaat ekonomi dan sosial yang lebih luas bagi daerah. Menurut Benny, pengembangan pelabuhan tidak semata diukur dari aktivitas bongkar muat, tetapi dari sejauh mana kehadirannya mampu mendorong pertumbuhan wilayah sekitar.

“Pelabuhan Ciwandan kami posisikan sebagai bagian dari ekosistem pembangunan Banten. Kehadirannya harus memberi nilai tambah, baik bagi dunia usaha, masyarakat lokal, maupun sistem logistik nasional,” ujar Benny.

Lebih lanjut, Pelindo Regional 2 Banten juga mengembangkan sejumlah inovasi operasional dan perencanaan infrastruktur, termasuk rencana pengembangan kawasan Terminal Bojonegara, yang diarahkan untuk memperkuat peran pelabuhan sebagai pengungkit ekonomi daerah. Langkah ini diharapkan mampu menciptakan efek berganda melalui tumbuhnya aktivitas usaha pendukung, peningkatan serapan tenaga kerja, serta perbaikan rantai pasok di wilayah Banten dan sekitarnya.

Selain aspek ekonomi, Pelindo juga menekankan pendekatan humanis dalam pengelolaan pelabuhan. Melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), perusahaan secara konsisten hadir mendampingi masyarakat, baik melalui bantuan sosial, dukungan penanganan kebencanaan, maupun program pemberdayaan yang disesuaikan dengan kebutuhan lokal.

“Kami menyadari bahwa pelabuhan adalah ruang hidup yang berdampingan langsung dengan masyarakat. Karena itu, keberlanjutan sosial menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari strategi pengembangan kami,” tambahnya.

Menutup pemaparannya, Benny mengapresiasi peran insan pers sebagai mitra strategis dalam menyampaikan informasi pembangunan infrastruktur kepada publik secara objektif dan berimbang. Menurutnya, kehadiran media sangat penting dalam membangun pemahaman masyarakat terhadap arah kebijakan dan transformasi yang dilakukan Pelindo.

“Melalui momentum Hari Pers Nasional ini, kami berharap sinergi dengan media terus terjaga. Pers memiliki peran penting dalam mengawal sekaligus menyampaikan bahwa pembangunan pelabuhan di Banten dijalankan untuk kepentingan bersama,” tutup Benny.

Seminar ini dihadiri oleh pemangku kepentingan daerah, praktisi infrastruktur, serta insan pers nasional yang berkumpul di Serang dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional 2026.



Sonny H. Sayangbati

Makin Serius Garap Energi Ramah Lingkungan, Ini Dua Proyek Hijau Pertamina Yang Diresmikan Danantara




MPN News,
Jakarta, 7 Februari 2026 – Kiprah PT Pertamina (Persero) mengembangkan industri energi ramah lingkungan kian kuat. Menjelang akhir pekan, BPI Danantara meresmikan groundbreaking (peletakan batu pertama) dua proyek hijau Pertamina yang berada di Cilacap (Jawa Tengah) dan Banyuwangi (Jawa Timur). Kedua proyek tersebut mendukung program Pemerintah dalam swasembada energi berbasis energi ramah lingkungan, dengan memanfaatkan potensi sumber daya dalam negeri. 

Proyek-proyek tersebut yakni Biorefinery Cilacap serta Pabrik Bioethanol Glenmore di Banyuwangi. Peresmian kedua fasilitas energi ramah lingkungan ini dilakukan secara serentak pada acara Peresmian Proyek Hilirisasi Fase-I di Kantor Danantara, Jakarta, Jumat 6 Februari 2026. 

CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menegaskan bahwa program hilirisasi merupakan agenda strategis yang menjadi prioritas Presiden Republik Indonesia, sekaligus menjadi salah satu fokus utama Danantara Indonesia dalam mendorong transformasi ekonomi nasional. 

“Tahap awal proyek-proyek ini diharapkan dapat memberikan dampak positif yang nyata bagi perekonomian Indonesia, baik melalui penciptaan nilai tambah industri maupun penyerapan tenaga kerja. Ke depan, proyek-proyek hilirisasi ini diharapkan menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat, berkelanjutan, dan berdaya saing global. Melalui kolaborasi yang erat antara pemerintah, BUMN, dan mitra strategis, hilirisasi akan menjadi fondasi penting dalam memperkuat kemandirian industri dan mendorong Indonesia menuju ekonomi yang lebih maju dan bernilai tambah tinggi,” ujar Rosan.

Senada, Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri mengungkapkan, kedua proyek tersebut merupakan langkah nyata dari Pertamina dalam mendukung program Pemerintah dalam mencapai target swasembada energi yang ramah lingkungan dengan memanfaatkan potensi sumber daya dalam negeri. 

“Program Biorefinery Cilacap dan pembangunan pabrik Bioethanol Glenmore ini diharapkan dapat mewujudkan transisi energi ramah lingkungan, berpotensi menurunkan impor Avtur dan BBM, mendukung Peta Jalan penggunaan Sustainable Aviation Fuel (SAF), program transisi dan swasembada energi di Indonesia" jelasnya. 

Peresmian proyek-proyek ini juga dilaksanakan secara daring untuk terkoneksi ke Cilacap dan Banyuwangi. 

Direktur Strategi Portofolio dan Pengembangan Usaha (SPPU) Pertamina, Emma Sri Martini, hadir di Kilang Pertamina Cilacap. 

Emma menegaskan, Biorefinery Cilacap selaras dengan strategi Dual Growth Pertamina dalam mengembangkan bisnis rendah karbon tanpa mengabaikan penguatan bisnis eksisting.

Untuk memastikan keberlanjutan dan daya saing rantai pasok SAF, Pertamina membangun sinergi lintas pemangku kepentingan dari hulu hingga hilir, mulai dari regulator, penyedia bahan baku, produsen, hingga offtaker sebagai pengguna akhir. Sinergi ini bertujuan menciptakan ekosistem SAF yang terintegrasi, berkelanjutan, dan berdaya saing global.

Ini salah satu proyek percontohan yang cukup lengkap, banyak sekali multiplier effect yang kita peroleh. Bisa mengurangi impor, mengurangi current deficit, bisa menciptakan lapangan pekerjaan, menjadi energi hijau yang bisa mengurangi karbon emisi serta sekaligus mengurangi polusi juga yang membuat paru-paru kita sehat,” imbuh Emma.

Sementara, Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina Agung Wicaksono mengungkapkan, proyek pembangunan pabrik bioethanol mewujudkan energi bersih dan swasembada energi yang sejalan dengan program Asta Cita. Agung menghadiri peresmian Pabrik Bioethanol Glenmore di Banyuwangi, di mana pabrik ini merupakan kolaborasi antara Pertamina melalui Subholding Pertamina New and Renewable Energy dengan PT Sinergi Gula Nasional (SGN), anak usaha PT Perkebunan Nusantara (PTPN). 

“Pembangunan ini merupakan bentuk nyata kolaborasi Pertamina dengan PTPN untuk menghasilkan energi bersih untuk rakyat. Selain itu, melalui kolaborasi ini kami dapat mendorong perekonomian rakyat yang menumbuhkan swasembada energi,” ungkap Agung.

Berikut profil dua proyek ramah lingkungan Pertamina:

Proyek Biorefinery Cilacap, berlokasi di Jawa Tengah. Biorefinery Cilacap dirancang memiliki kapasitas pengolahan hingga 6 ribu barel per hari (KBPD) minyak jelantah untuk diolah menjadi energi hijau. Saat ini, Kilang Cilacap telah menghasilkan 27 KL SAF per hari. Pada tahun 2029, diproyeksikan pengolahan SAF meningkat menjadi 887 KL SAF. 

Pembangunan Biorefinery Cilacap berdampak positif bagi perekonomian masyarakat, daerah dan nasional, serta lingkungan. Total kontribusinya terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) diperkirakan mencapai Rp 199 triliun per tahun. Selain itu, pada masa pembangunan mampu menyerap tenaga kerja hingga 5.900 orang, serta target penyerapan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sebesar 30%. Sebagai energi ramah lingkungan, SAF juga diharapkan dapat mengurangi emisi sekitar 600 ribu ton setara CO2. 

Sementara itu dari aspek pengumpulan bahan baku minyak jelantah (UCO), Pertamina turut memberdayakan masyarakat setempat, salah satunya melalui Komunitas Beo Asri yang terdiri dari lebih 2.900 kepala keluarga, dari 7 titik lokasi pengumpulan UCO (UCO Collection Box). 

Pembangunan Pabrik Bioethanol Glenmore, sinergi antara Pertamina New and Renewable Energy dengan PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), anak usaha PT Perkebunan Nusantara. Proyek yang dilakukan di Banyuwangi, Jawa Timur ini di diharapkan memiliki kapasitas produksi bioethanol berbasis tebu mencapai 30 ribu KL per tahun, sehingga berpotensi mengurangi kebutuhan impor BBM dan ethanol. 

Pembangunan Pabrik Bioethanol Glenmore diharapkan akan memberdayakan lebih dari 4 ribu tenaga kerja lokal dan petani tebu. Sebanyak 25% TKDN juga diperkirakan tercapai pada proses pembangunan pabrik. Selain itu, program ini diperkirakan juga berdampak pada pengurangan emisi tahunan sebesar 66 ribu ton setara CO2.

Pertamina sebagai perusahaan pemimpin di bidang transisi energi, berkomitmen dalam mendukung target Net Zero Emission 2060 dan terus mendorong program-program yang berdampak langsung pada capaian Sustainable Development Goals (SDGs). Seluruh upaya tersebut sejalan dengan transformasi Pertamina yang berorientasi pada tata kelola, pelayanan publik, keberlanjutan usaha dan lingkungan, dengan menerapkan prinsip-prinsip Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasi Pertamina, berkoordinasi dengan

 https://www.danantaraindonesia.co.id/.



Sonny H. Sayangbati

Jumat, 06 Februari 2026

Jangan Tinggalkan Kawan Pesan Ketua Umum SMSI Warnai Pembukaan HPN 2026

MPN News, Banten 7 Pebruari 2026 -Suasana hangat penuh kekeluargaan menyelimuti acara Welcome Dinner menyambut delegasi Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Provinsi Banten. Dalam momen tersebut, Ketua Umum Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Pusat, Drs. Firdaus, M.Si., menyampaikan pesan-pesan visioner dan filosofis di hadapan pengurus SMSI dari seluruh penjuru Nusantara, Kamis (5/2).

Acara ini dihadiri langsung oleh jajaran Forkopimda Kabupaten Serang. Kehadiran unsur pimpinan daerah, mulai dari Pemerintah Kabupaten Serang, jajaran TNI, Polri, hingga Kejaksaan, menunjukkan komitmen kuat dan dukungan penuh pemerintah daerah dalam menyukseskan perhelatan akbar insan pers nasional tersebut.

Di hadapan ratusan pemilik media siber, Firdaus menekankan bahwa HPN 2026 di Banten harus menjadi momentum transformasi total bagi anggota SMSI. Ia mengingatkan bahwa di era digital yang bergerak sangat cepat, media harus terkoneksi secara kuat dengan jaringan sosial dan sistem media monitoring.

“Media tidak boleh lagi hanya mengandalkan pola lama. Kita harus terkoneksi ke seluruh jaringan sosial agar tetap terbaca oleh publik dan instansi. Transformasi digital bukan pilihan, tapi keharusan jika ingin tetap relevan,” tegas Firdaus.

Salah satu poin yang paling menyita perhatian adalah pesan moral mengenai solidaritas organisasi. Dengan slogan khas “Jangan Tinggalkan Kawan”, Firdaus mengajak seluruh anggota untuk menjaga integritas di tengah perbedaan pilihan politik atau ideologi.

“Meskipun kita berbeda pilihan, integritas dan kawan seperjuangan tidak boleh dikorbankan. Jangan ada yang saling ‘menggunting’ atau mendahului rekan sendiri. Kita harus terus bergandengan tangan untuk menjaga marwah organisasi,” tambahnya.

Terkait keberlanjutan bisnis media, tokoh pers asal Banten ini mendorong kemandirian organisasi. Menurutnya, SMSI harus berkomitmen untuk tidak bergantung sepenuhnya pada pemerintah, melainkan bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi bangsa yang mandiri dan mampu menopang potensi negara.

Firdaus juga memberikan catatan kritis mengenai kualitas karya jurnalistik saat ini. Ia mengingatkan para jurnalis di bawah naungan SMSI untuk tidak terjebak dalam perlombaan kecepatan yang justru mengabaikan akurasi.

“Lebih baik kita menahan diri sebentar untuk menghasilkan tulisan yang benar, daripada menulis cepat namun keliru. Materi adalah dampak dari pengabdian yang tulus. Menjadi jurnalis harus didasari niat membela yang lemah dan membangun bangsa,” tuturnya secara filosofis.

Acara yang dipandu oleh tuan rumah SMSI Provinsi Banten ini berjalan khidmat dan menjadi ajang konsolidasi internal yang kuat menjelang puncak peringatan HPN 2026. Ketegasan visi yang disampaikan Ketum SMSI ini diharapkan menjadi pedoman bagi seluruh pengurus di tingkat provinsi masing-masing dalam menjaga barisan dan etika berorganisasi. 




Sonny H. Sayangbati


Space Iklan Bawah Halaman 1


Space Iklan Bawah Halaman 4