Sabtu, 14 Februari 2026

Program Hidroponik Dukung Inisiatif Green Terminal Tanjung Sekong

 




MPN News, Cilacap, 14 Februari 2026 – Di Kapling Baru 2, Kota Cilegon, Kecamatan Pulau Merak, sekelompok ibu rumah tangga kini memiliki aktivitas produktif yang ramah lingkungan. Melalui Kelompok Wanita Tani (KWT) Wahid Sapa, mereka mengelola kebun hidroponik yang tidak hanya menjadi sumber pangan, tetapi juga simbol transformasi energi di tingkat masyarakat.

Program bertajuk "KreaSea Tumbuh" ini merupakan inisiatif CSR PT Pertamina Energy Terminal (PET) melalui Terminal LPG Tanjung Sekong. Program ini dirancang sebagai bagian dari pilar Green Terminal, yang mengintegrasikan aspek keberlanjutan lingkungan dengan pemberdayaan masyarakat.  

Inovasi Energi Terbarukan dan Efisiensi

Selaras dengan visi Green Terminal, operasional rumah hidroponik ini telah beralih dari energi fosil ke energi bersih. Pertamina melakukan instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 4,4 kWp sebagai sumber energi utama. Langkah ini memberikan dampak lingkungan nyata dengan estimasi penurunan emisi karbon mencapai 1,75 ton CO2 eq/tahun.  

Selain aspek energi, PET juga membantu mengatasi kendala teknis aliran air yang sebelumnya dikeluhkan anggota kelompok, dengan inovasi incremental. Yakni inovasi dengan pemasangan tangki tekan air yang berfungsi menstabilkan aliran air ke rak tanaman, serta double wall insulation untuk melindungi pipa dari lumut sehingga aliran air tetap efisien.

Transformasi Ekonomi dan Sosial

Dukungan PET telah mengubah sistem pertanian rumah tangga yang awalnya tidak terstruktur menjadi operasional yang tertata dan berkelanjutan. 

Sejak pembangunan rumah hidroponik pada September 2024, skala program meluas secara signifikan. Kegiatan yang awalnya hanya sebatas coba-coba, kini berkembang menjadi aktivitas rutin. Selain memperkuat ketahanan pangan, program hidroponik juga sudah mulai memberikan penghasilan tambahan bagi warga, seiring dengan meningkatnya partisipasi warga menjadi 30 orang dari sebelumnya yang hanya berjumlah 9 orang pada tahun 2023 lalu.

Ketua KWT Wahid Sapa, Ani Sosiawati menyampaikan awalnya program hidroponik dilakukan secara manual, namun setelah didukung bantuan rumah hidroponik dan pendampingan dari Pertamina, program hidroponik sekarang lebih tertata dan hasil panen lebih maksimal.

Lebih dari sekadar kegiatan bercocok tanam, kebun hidroponik ini juga menjadi ruang belajar dan pemberdayaan bagi ibu-ibu di lingkungan RW 06. Ani menilai manfaat yang dirasakan bukan hanya ekonomi, tetapi juga peningkatan keterampilan. “Dari yang awalnya tidak paham, sekarang kami bisa berbagi pengetahuan ke keluarga, teman-teman yang lain,” ujar Ani. Keuntungan panen disisihkan untuk dibagikan menjelang bulan puasa sebagai bentuk kebersamaan. “Keuntungan belum dibagi dulu, rencananya menjelang bulan puasa baru dibagikan untuk membantu kebutuhan ibu-ibu”, ujar Ani.

Ke depan, KWT Wahid Sapa berharap program ini dapat terus berkembang. “Harapan kami tidak hanya di sayuran, tapi program ini berkembang ke budidaya buah ,” ujar Ani.

Tak hanya dimanfaatkan anggota, hasil panen hidroponik KWT Wahid Sapa juga diminati warga sekitar. Mariana, pembeli yang datang dari Kapling Lama, mengaku rutin membeli sayuran setiap kali panen. “Saya sudah sering beli sayur di sini, biasanya setiap panen pasti beli. Soalnya bagus-bagus dan awet”, ujarnya. Mariana menilai kualitas sayur hidroponik Wahid Sapa lebih unggul dan lebih murah dibanding yang biasa ia beli di pasar”.

Mariana berharap produksi sayuran bisa semakin banyak dan melimpah. “Mudah-mudahan bisa lebih banyak lagi produksinya, jadi stoknya lebih banyak dan panennya lebih cepat,” ujar Mariana.

Program KreaSea Tumbuh menyasar kelompok rentan untuk meningkatkan kapabilitas individu. Selain 30 anggota KWT, program ini juga melibatkan kelompok Pemuda Berani Inovasi (PBI), keluarga penerima PKH, lansia, hingga pengangguran usia produktif untuk diberikan pelatihan keterampilan.  

Melalui integrasi antara teknologi ramah lingkungan (PLTS) dan pemberdayaan manusia, Pertamina Energy Terminal Tanjung Sekong membuktikan bahwa operasional terminal dapat berjalan selaras dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar wilayah operasi, sejalan dengan upaya menuju sertifikasi Green Terminal Tanjung Sekong.

Pertamina sebagai perusahaan pemimpin di bidang transisi energi, berkomitmen dalam mendukung target Net Zero Emission 2060 dan terus mendorong program-program yang berdampak langsung pada capaian Sustainable Development Goals (SDGs). Seluruh upaya tersebut sejalan dengan transformasi Pertamina yang berorientasi pada tata kelola, pelayanan publik, keberlanjutan usaha dan lingkungan, dengan menerapkan prinsip-prinsip Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasi Pertamina, berkoordinasi dengan https:/

/www.danantaraindonesia.co.id/.



Sonny H. Sayangbati

Jumat, 13 Februari 2026

Menengok kembali sejarah pembangunan Pelabuhan Tanjung Priok

 


MPN News, Jakarta 15 Februari 2025 -Pelabuhan Tanjung Priok merupakan pelabuhan terbesar dan tersibuk di Indonesia yang berperan penting dalam lalu lintas perdagangan nasional maupun internasional.

Terletak di Jakarta Utara, pelabuhan ini menjadi simpul utama aktivitas ekspor-impor dan telah melalui perjalanan sejarah panjang sejak era kolonial

Pembangunan Pelabuhan Tanjung Priok dimulai pada tahun 1883 atas inisiatif pemerintah kolonial Belanda untuk menggantikan fungsi Pelabuhan Sunda Kelapa yang kala itu sudah tidak memadai untuk mendukung pertumbuhan perdagangan.

Pembangunan ini berada di bawah kepemimpinan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Jenderal Johannes van den Bosch, dan selesai pada tahun 1886.

Saat pertama kali dibangun, pelabuhan ini dirancang dengan fasilitas yang lebih modern dibandingkan pelabuhan-pelabuhan sebelumnya, seperti kedalaman perairan yang memadai bagi kapal besar, serta dermaga dan gudang penyimpanan.

Hal ini menjadikan Pelabuhan Tanjung Priok sebagai pelabuhan utama Hindia Belanda dan pusat distribusi berbagai komoditas penting seperti kopi, teh, rempah-rempah, serta barang-barang manufaktur.

Selama masa penjajahan Belanda, pelabuhan ini memainkan peran strategis sebagai jalur utama ekspor-impor.

Namun, pada masa Perang Dunia II, Pelabuhan Tanjung Priok mengalami kerusakan parah akibat serangan udara yang dilancarkan oleh pasukan Sekutu, sehingga sempat mengganggu aktivitas logistik dan perdagangan secara signifikan.

Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, Pelabuhan Tanjung Priok menjadi bagian penting dari infrastruktur nasional yang menopang ekonomi negara yang baru berdiri. Pemerintah Indonesia melakukan berbagai langkah modernisasi, termasuk pembangunan fasilitas baru dan perbaikan infrastruktur, guna mendukung peningkatan volume perdagangan dan industrialisasi.

Memasuki abad ke-21, Pelabuhan Tanjung Priok terus dikembangkan secara bertahap untuk menjawab tantangan zaman.

Pada tahun 2010, pemerintah meluncurkan program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), yang menempatkan pembangunan dan penguatan pelabuhan ini sebagai salah satu prioritas utama.

Saat ini, Pelabuhan Tanjung Priok dilengkapi dengan berbagai fasilitas modern, seperti terminal kontainer berteknologi tinggi, gudang distribusi, pusat logistik terpadu, serta sistem keamanan dan pengawasan digital. Pelabuhan ini mampu melayani jutaan TEUs (twenty-foot equivalent units) per tahun dan menjadi simpul penting dalam rantai pasok logistik global.

Melalui sejarah panjang yang mencerminkan transformasi Indonesia dari masa kolonial hingga era globalisasi ini, Pelabuhan Tanjung Priok tidak hanya menjadi saksi sejarah, namun juga menjadi simbol kekuatan ekonomi maritim nasional. Keberadaan dan perkembangan pelabuhan ini akan terus menjadi bagian vital dalam mendukung visi Indonesia sebagai poros maritim dunia.



--------------------
Disadur dari KBN Antara 
Sumber Artikel dan Foto KBN Antara 
Disalin kembali oleh redaksi MPN News

Direktur Pertamina Paparkan Pertamina Beyond Energy, Wujud Kepemimpinan dalam Ketangguhan Energi dan Komitmen Lingkungan

 



MPN News, Jakarta, 13 Februari 2026 – Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri memaparkan komitmen Pertamina Beyond Energy pada ajang Green Leadership PROPER 2024-2025 yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), di Jakarta, Selasa, 10 Februari 2026. Komitmen ini mengandung makna sebagai kepemimpinan dalam transisi energi hijau dan ekonomi sirkular untuk ketahanan energi yang selaras dengan kelestarian lingkungan. 

“Prinsip keberlanjutan Pertamina diharapkan dapat menjadi fondasi menuju Indonesia Emas 2045. Seluruh program Pertamina, baik operasional maupun sosial, dijalankan selaras dengan Asta Cita Presiden Republik Indonesia dan Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah), sebagai wujud komitmen Pertamina pada ketahanan energi, lingkungan hidup, dan kesejahteraan masyarakat,“ jelas Simon. 

Pertamina menerapkan strategi pertumbuhan ganda (Dual Growth Strategy), yakni memaksimalkan bisnis eksisting Pertamina untuk memenuhi keamanan energi nasional saat ini. Kedua, membangun bisnis rendah karbon atau energi hijau, untuk mendorong percepatan transisi energi dan ekosistemnya sebagai energi masa depan. 

Sejalan dengan strategi tersebut, Simon mengungkapkan, Pertamina juga mengutamakan upaya dekarbonisasi. Seperti pengembangan ekosistem green hydrogen, peningkatan energi baru dan terbarukan, serta proyek Carbon Capture Utilization and Storage (CCS/CCUS) dengan potensi penurunan emisi hingga 980 ribu ton CO₂e. Pertamina juga berinovasi dalam produk-produk ramah lingkungan, yaitu BBM rendah sulfur selaras dengan Peta Jalan Kementerian ESDM. Serta, Pertamina Sustainable Aviation Fuel (SAF) yang menjadi terobosan bahan bakar penerbangan berbahan baku minyak jelantah (Used Coconut Oil/UCO). 

“Ini adalah wujud kepemimpinan Pertamina dalam orkestrasi transisi energi nasional. Berbagai inisiatif menurunkan emisi transportasi sekaligus mendorong standar BBM yang lebih bersih di Indonesia,” jelas Simon.

Simon mengungkapkan, tantangan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama, sehingga perlu solusi berkelanjutan dan berdampak langsung bagi masyarakat. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penguatan pengelolaan sampah nasional dalam 151 program Pertamina yang menjangkau berbagai lapisan masyarakat, mulai dari komunitas perkotaan, pedesaan, hingga pesisir.

“Salah satu inovasi unggulan Pertamina adalah WASTECO atau Waste to Energy for Community di Balikpapan. Sampah organik diolah menjadi gas metana, dialirkan langsung ke rumah warga dan UMKM di sekitar TPA Manggar untuk kebutuhan memasak, sehingga memberikan dampak nyata bagi ekonomi lokal,” ujarnya. 

Pertamina juga telah mengembangkan Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Desa Energi Berdikari (DEB) di 252 titik lokasi, yang mengintegrasikan pemanfaatan energi baru terbarukan dengan penguatan ekonomi desa. Melalui program DEB, pengelolaan sampah di tingkat masyarakat ditransformasikan menjadi sumber daya produktif, sekaligus membangun kemandirian energi dan ekonomi.

Di sisi lain, Pertamina menegaskan komitmennya dalam aspek kemanusiaan. Menurut Simon, setiap bencana harus dijawab dengan kehadiran nyata. Selama tahun 2025, Pertamina telah menyalurkan bantuan kebencanaan ke lebih dari 70 Kabupaten dan Kota di seluruh Indonesia. Pertamina bergerak menembus keterbatasan untuk menyalurkan energi, seperti Bright Gas, BBM dan Avtur tetap tersedia untuk kebutuhan dasar dan evakuasi, hingga mengalirkan air bersih yang sangat dinantikan para pengungsi.

“Sinergi antara program TJSL Pertamina yang berdampak dan bisnis, tidak hanya menyelamatkan lingkungan saat ini, tetapi juga membangun benteng pertahanan masyarakat agar tetap berdaya saat bencana melanda, selaras dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto. Mari kita bersama-sama menciptakan Indonesia ASRI yang tidak hanya indah secara lingkungan, tetapi juga kokoh secara ketahanan energi,” tutupnya.

Pertamina sebagai perusahaan pemimpin di bidang transisi energi, berkomitmen dalam mendukung target Net Zero Emission 2060 dan terus mendorong program-program yang berdampak langsung pada capaian Sustainable Development Goals (SDGs). Seluruh upaya tersebut sejalan dengan transformasi Pertamina yang berorientasi pada tata kelola, pelayanan publik, keberlanjutan usaha dan lingkungan, dengan menerapkan prinsip-prinsip Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasi Pertamina, berkoordinasi dengan https://www.danantaraindonesia.co.id/.



Sonny H. Sayangbati 

Pertamina Paparkan Strategi Swasembada Energi dan Penguatan Ekonomi Rakyat di DPR

 



MPN News, Jakarta, 14 Februari 2026 – PT Pertamina (Persero) menegaskan komitmennya mendukung visi Pemerintah dalam Asta Cita, khususnya pencapaian swasembada energi dan penguatan ekonomi masyarakat melalui kolaborasi berkelanjutan. Hal tersebut disampaikan Direksi Pertamina dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR RI, 11 Februari 2026, di Jakarta.

Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri menyampaikan, sebagai perusahaan energi nasional, Pertamina terus meningkatkan layanan energi kepada masyarakat, termasuk melalui penguatan struktur bisnis.

Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah integrasi bisnis hilir melalui pembentukan Subholding Downstream guna memperkuat rantai pasok, meningkatkan efisiensi, serta memastikan ketahanan (resiliency) operasional jangka panjang.

“Melalui dukungan berbagai pihak dan setelah melalui pertimbangan yang matang, kami melakukan integrasi bisnis hilir melalui Subholding Downstream untuk memperkuat sistem distribusi energi nasional,” ujar Simon.

RDP juga membahas peran Pertamina dalam penanggulangan bencana hidrometeorologi di Sumatra serta partisipasi dalam Program Koperasi Desa Merah Putih. Dukungan tersebut diarahkan untuk memperkuat ekosistem distribusi energi di desa dan memastikan akses energi yang merata.

“Pertamina melakukan koordinasi lintas pemangku kepentingan agar program berjalan tertib, tepat sasaran, dan memberi dampak langsung bagi masyarakat,” tambah Simon.

Keberlangsungan distribusi BBM subsidi turut menjadi sorotan dalam RDP. Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Nurdin Halid menyampaikan temuan lapangan saat melakukan inspeksi mendadak di SPBU KM 13, Kecamatan Balikpapan Utara. Di mana, ditemukan antrean truk beroda 10 hendak mengisi Solar Subsidi. 

Setelah ditelusuri, kendaraan tersebut seharusnya mengisi Solar Industri atau tidak mendapatkan subsidi. Berdasarkan regulasi, Solar Subsidi diperuntukkan bagi angkutan umum dan kendaraan pengangkut bahan pokok tertentu. 

“Antrean sengaja dilakukan bukan karena pasokan atau pelayanan Pertamina kurang, namun mereka sengaja mengantre untuk mengambil selisih dari harga solar subsidi. Sehingga, berapapun (Solar Subsidi) yang dikirim Pertamina, pasti akan habis,” ujar Nurdin.

Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Andre Rosiade mengapresiasi gerak cepat Pertamina dalam menangani penyaluran energi di wilayah terdampak bencana di Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat.

“Saya ucapkan terima kasih atas gerak cepat Pertamina membantu permasalahan bencana di Sumatra Barat, Aceh dan Sumatra Utara. Saya merasakan betul, pengiriman BBM direspon dengan cepat oleh Pertamina. Pertamina merupakan salah satu BUMN yang responsif,” ujar Andre.

Pertamina sebagai perusahaan pemimpin di bidang transisi energi, berkomitmen dalam mendukung target Net Zero Emission 2060 dan terus mendorong program-program yang berdampak langsung pada capaian Sustainable Development Goals (SDGs). Seluruh upaya tersebut sejalan dengan transformasi Pertamina yang berorientasi pada tata kelola, pelayanan publik, keberlanjutan usaha dan lingkungan, dengan menerapkan prinsip-prinsip Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasi Pertamina, berkoordinasi dengan https://www.danantaraindonesia.co.id/.



Sonny H. Sayangbati

PT Pelita Air Service Rampungkan Reaktivasi Bandara Pinang Kampai Dumai


 

MPN News, Dumai, 14 Februari 2026 – PT Pelita Air Service, melalui lini bisnis airport management secara resmi telah merampungkan reaktivasi operasional Bandara Pinang Kampai Dumai. Langkah strategis ini mencakup kesiapan infrastruktur yakni landasan pacu sepanjang 1.800 meter untuk melayani penerbangan reguler dan charter dengan fokus rute domestik.

Direktur Utama PT Pelita Air Service, Dendy Kurniawan, menyampaikan bahwa reaktivasi Bandara Pinang Kampai merupakan manifestasi nyata dari komitmen Perusahaan dalam memperkuat ekosistem transportasi udara nasional melalui sinergi lintas pemangku kepentingan yang solid.

“Sinergi yang kami jalin dengan Pemerintah Kota Dumai, Kementerian Perhubungan, AirNav dan BMKG menjadi hal yang esensial dalam proyek reaktivasi Bandara Pinang Kampai. Kami dan seluruh pemangku kepentingan berada dalam komitmen yang sama untuk meningkatkan konektivitas udara nasional, khususnya di wilayah Sumatra,” ujar Dendy Kurniawan.

Dirinya turut menjelaskan bahwa kolaborasi dengan Pemerintah Kota Dumai diarahkan pada keberlanjutan operasional bandara untuk jangka panjang.

"Pemerintah Kota Dumai telah menyatakan kesiapannya untuk memfasilitasi pembukaan rute-rute seperti Dumai–Padang, Dumai–Pekanbaru, Dumai–Medan, Dumai–Batam, Dumai–Jakarta, dan rute strategis lainnya bagi maskapai-maskapai yang berminat," ungkap Dendy.

Ia melanjutkan bahwa keberhasilan reaktivasi Bandara Pinang Kampai juga tak luput dari dukungan Kementerian Perhubungan, yakni melalui Direktorat Bandar Udara dan Direktorat Navigasi Penerbangan, serta AirNav Indonesia sebagai BUMN penyelenggara layanan navigasi penerbangan.

"Bandara Pinang Kampai dapat beroperasi kembali secara resmi tentunya berlandaskan Sertifikat Bandar Udara dan Sertifikat Pelayanan Navigasi dan Komunikasi Penerbangan yang diterbitkan oleh Kementerian Perhubungan dan AirNav Indonesia, yang selaras dengan Civil Aviation Safety Regulations (CASR)," jelasnya.

Kemudian, dirinya juga mengatakan bahwa Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) juga turut andil dalam mendukung reaktivasi bandara ini.

"Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga turut memberikan dukungan teknis melalui instalasi perangkat barometer untuk memastikan akurasi data di area bandara. Hal ini penting dalam menjamin keselamatan penerbangan," ucap Dendy.

Bandara Pinang Kampai Dumai merupakan aset milik PT Pertamina (Persero). Sebagai anak usaha Pertamina, PT Pelita Air Service dengan lini bisnis airport management yang dimilikinya, memastikan Bandara Pinang Kampai akan dikelola secara optimal. Perusahaan juga terus berupaya agar pengembangan bandara ini dapat senantiasa adaptif dengan kebutuhan masyarakat, serta memberikan kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi di kawasan Dumai dan sekitarnya.

Pertamina sebagai perusahaan pemimpin di bidang transisi energi, berkomitmen dalam mendukung target Net Zero Emission 2060 dan terus mendorong program-program yang berdampak langsung pada capaian Sustainable Development Goals (SDGs). Seluruh upaya tersebut sejalan dengan transformasi Pertamina yang berorientasi pada tata kelola, pelayanan publik, keberlanjutan usaha dan lingkungan, dengan menerapkan prinsip-prinsip Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasi Pertamina, berkoordinasi dengan https://www.danantaraindonesia.co.id/.



Sonny H. Sayangbati


Space Iklan Bawah Halaman 1


Space Iklan Bawah Halaman 4