Sabtu, 07 Februari 2026

HPN 2026: Pelindo Regional 2 Banten Tegaskan Transformasi Pelabuhan Ciwandan sebagai Simpul Logistik yang Memberi Dampak Nyata Bagi Masyarakat







MPN News, SERANG (07/02)* – PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 2 Banten menegaskan peran Pelabuhan Ciwandan sebagai simpul logistik strategis yang tidak hanya menopang aktivitas industri, tetapi juga menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat Banten dan kepentingan nasional. Komitmen tersebut disampaikan oleh General Manager Pelindo Regional 2 Banten, Benny Ariadi, dalam Seminar Infrastruktur pada rangkaian peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026.

Dalam seminar bertajuk “Inovasi Pengembangan Pelabuhan Ciwandan untuk Kemanfaatan Masyarakat Banten” yang digelar di Ballroom Hotel Aston Serang, Sabtu (7/2), Benny memaparkan arah transformasi Pelabuhan Ciwandan yang kini berkembang dari pelabuhan kargo curah industri menjadi pelabuhan multifungsi dengan peran yang semakin inklusif dan berkelanjutan.

Transformasi tersebut diarahkan untuk memperkuat konektivitas logistik, meningkatkan efisiensi layanan kepelabuhanan, serta membuka ruang manfaat ekonomi dan sosial yang lebih luas bagi daerah. Menurut Benny, pengembangan pelabuhan tidak semata diukur dari aktivitas bongkar muat, tetapi dari sejauh mana kehadirannya mampu mendorong pertumbuhan wilayah sekitar.

“Pelabuhan Ciwandan kami posisikan sebagai bagian dari ekosistem pembangunan Banten. Kehadirannya harus memberi nilai tambah, baik bagi dunia usaha, masyarakat lokal, maupun sistem logistik nasional,” ujar Benny.

Lebih lanjut, Pelindo Regional 2 Banten juga mengembangkan sejumlah inovasi operasional dan perencanaan infrastruktur, termasuk rencana pengembangan kawasan Terminal Bojonegara, yang diarahkan untuk memperkuat peran pelabuhan sebagai pengungkit ekonomi daerah. Langkah ini diharapkan mampu menciptakan efek berganda melalui tumbuhnya aktivitas usaha pendukung, peningkatan serapan tenaga kerja, serta perbaikan rantai pasok di wilayah Banten dan sekitarnya.

Selain aspek ekonomi, Pelindo juga menekankan pendekatan humanis dalam pengelolaan pelabuhan. Melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), perusahaan secara konsisten hadir mendampingi masyarakat, baik melalui bantuan sosial, dukungan penanganan kebencanaan, maupun program pemberdayaan yang disesuaikan dengan kebutuhan lokal.

“Kami menyadari bahwa pelabuhan adalah ruang hidup yang berdampingan langsung dengan masyarakat. Karena itu, keberlanjutan sosial menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari strategi pengembangan kami,” tambahnya.

Menutup pemaparannya, Benny mengapresiasi peran insan pers sebagai mitra strategis dalam menyampaikan informasi pembangunan infrastruktur kepada publik secara objektif dan berimbang. Menurutnya, kehadiran media sangat penting dalam membangun pemahaman masyarakat terhadap arah kebijakan dan transformasi yang dilakukan Pelindo.

“Melalui momentum Hari Pers Nasional ini, kami berharap sinergi dengan media terus terjaga. Pers memiliki peran penting dalam mengawal sekaligus menyampaikan bahwa pembangunan pelabuhan di Banten dijalankan untuk kepentingan bersama,” tutup Benny.

Seminar ini dihadiri oleh pemangku kepentingan daerah, praktisi infrastruktur, serta insan pers nasional yang berkumpul di Serang dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional 2026.



Sonny H. Sayangbati

Makin Serius Garap Energi Ramah Lingkungan, Ini Dua Proyek Hijau Pertamina Yang Diresmikan Danantara




MPN News,
Jakarta, 7 Februari 2026 – Kiprah PT Pertamina (Persero) mengembangkan industri energi ramah lingkungan kian kuat. Menjelang akhir pekan, BPI Danantara meresmikan groundbreaking (peletakan batu pertama) dua proyek hijau Pertamina yang berada di Cilacap (Jawa Tengah) dan Banyuwangi (Jawa Timur). Kedua proyek tersebut mendukung program Pemerintah dalam swasembada energi berbasis energi ramah lingkungan, dengan memanfaatkan potensi sumber daya dalam negeri. 

Proyek-proyek tersebut yakni Biorefinery Cilacap serta Pabrik Bioethanol Glenmore di Banyuwangi. Peresmian kedua fasilitas energi ramah lingkungan ini dilakukan secara serentak pada acara Peresmian Proyek Hilirisasi Fase-I di Kantor Danantara, Jakarta, Jumat 6 Februari 2026. 

CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menegaskan bahwa program hilirisasi merupakan agenda strategis yang menjadi prioritas Presiden Republik Indonesia, sekaligus menjadi salah satu fokus utama Danantara Indonesia dalam mendorong transformasi ekonomi nasional. 

“Tahap awal proyek-proyek ini diharapkan dapat memberikan dampak positif yang nyata bagi perekonomian Indonesia, baik melalui penciptaan nilai tambah industri maupun penyerapan tenaga kerja. Ke depan, proyek-proyek hilirisasi ini diharapkan menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat, berkelanjutan, dan berdaya saing global. Melalui kolaborasi yang erat antara pemerintah, BUMN, dan mitra strategis, hilirisasi akan menjadi fondasi penting dalam memperkuat kemandirian industri dan mendorong Indonesia menuju ekonomi yang lebih maju dan bernilai tambah tinggi,” ujar Rosan.

Senada, Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri mengungkapkan, kedua proyek tersebut merupakan langkah nyata dari Pertamina dalam mendukung program Pemerintah dalam mencapai target swasembada energi yang ramah lingkungan dengan memanfaatkan potensi sumber daya dalam negeri. 

“Program Biorefinery Cilacap dan pembangunan pabrik Bioethanol Glenmore ini diharapkan dapat mewujudkan transisi energi ramah lingkungan, berpotensi menurunkan impor Avtur dan BBM, mendukung Peta Jalan penggunaan Sustainable Aviation Fuel (SAF), program transisi dan swasembada energi di Indonesia" jelasnya. 

Peresmian proyek-proyek ini juga dilaksanakan secara daring untuk terkoneksi ke Cilacap dan Banyuwangi. 

Direktur Strategi Portofolio dan Pengembangan Usaha (SPPU) Pertamina, Emma Sri Martini, hadir di Kilang Pertamina Cilacap. 

Emma menegaskan, Biorefinery Cilacap selaras dengan strategi Dual Growth Pertamina dalam mengembangkan bisnis rendah karbon tanpa mengabaikan penguatan bisnis eksisting.

Untuk memastikan keberlanjutan dan daya saing rantai pasok SAF, Pertamina membangun sinergi lintas pemangku kepentingan dari hulu hingga hilir, mulai dari regulator, penyedia bahan baku, produsen, hingga offtaker sebagai pengguna akhir. Sinergi ini bertujuan menciptakan ekosistem SAF yang terintegrasi, berkelanjutan, dan berdaya saing global.

Ini salah satu proyek percontohan yang cukup lengkap, banyak sekali multiplier effect yang kita peroleh. Bisa mengurangi impor, mengurangi current deficit, bisa menciptakan lapangan pekerjaan, menjadi energi hijau yang bisa mengurangi karbon emisi serta sekaligus mengurangi polusi juga yang membuat paru-paru kita sehat,” imbuh Emma.

Sementara, Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina Agung Wicaksono mengungkapkan, proyek pembangunan pabrik bioethanol mewujudkan energi bersih dan swasembada energi yang sejalan dengan program Asta Cita. Agung menghadiri peresmian Pabrik Bioethanol Glenmore di Banyuwangi, di mana pabrik ini merupakan kolaborasi antara Pertamina melalui Subholding Pertamina New and Renewable Energy dengan PT Sinergi Gula Nasional (SGN), anak usaha PT Perkebunan Nusantara (PTPN). 

“Pembangunan ini merupakan bentuk nyata kolaborasi Pertamina dengan PTPN untuk menghasilkan energi bersih untuk rakyat. Selain itu, melalui kolaborasi ini kami dapat mendorong perekonomian rakyat yang menumbuhkan swasembada energi,” ungkap Agung.

Berikut profil dua proyek ramah lingkungan Pertamina:

Proyek Biorefinery Cilacap, berlokasi di Jawa Tengah. Biorefinery Cilacap dirancang memiliki kapasitas pengolahan hingga 6 ribu barel per hari (KBPD) minyak jelantah untuk diolah menjadi energi hijau. Saat ini, Kilang Cilacap telah menghasilkan 27 KL SAF per hari. Pada tahun 2029, diproyeksikan pengolahan SAF meningkat menjadi 887 KL SAF. 

Pembangunan Biorefinery Cilacap berdampak positif bagi perekonomian masyarakat, daerah dan nasional, serta lingkungan. Total kontribusinya terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) diperkirakan mencapai Rp 199 triliun per tahun. Selain itu, pada masa pembangunan mampu menyerap tenaga kerja hingga 5.900 orang, serta target penyerapan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sebesar 30%. Sebagai energi ramah lingkungan, SAF juga diharapkan dapat mengurangi emisi sekitar 600 ribu ton setara CO2. 

Sementara itu dari aspek pengumpulan bahan baku minyak jelantah (UCO), Pertamina turut memberdayakan masyarakat setempat, salah satunya melalui Komunitas Beo Asri yang terdiri dari lebih 2.900 kepala keluarga, dari 7 titik lokasi pengumpulan UCO (UCO Collection Box). 

Pembangunan Pabrik Bioethanol Glenmore, sinergi antara Pertamina New and Renewable Energy dengan PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), anak usaha PT Perkebunan Nusantara. Proyek yang dilakukan di Banyuwangi, Jawa Timur ini di diharapkan memiliki kapasitas produksi bioethanol berbasis tebu mencapai 30 ribu KL per tahun, sehingga berpotensi mengurangi kebutuhan impor BBM dan ethanol. 

Pembangunan Pabrik Bioethanol Glenmore diharapkan akan memberdayakan lebih dari 4 ribu tenaga kerja lokal dan petani tebu. Sebanyak 25% TKDN juga diperkirakan tercapai pada proses pembangunan pabrik. Selain itu, program ini diperkirakan juga berdampak pada pengurangan emisi tahunan sebesar 66 ribu ton setara CO2.

Pertamina sebagai perusahaan pemimpin di bidang transisi energi, berkomitmen dalam mendukung target Net Zero Emission 2060 dan terus mendorong program-program yang berdampak langsung pada capaian Sustainable Development Goals (SDGs). Seluruh upaya tersebut sejalan dengan transformasi Pertamina yang berorientasi pada tata kelola, pelayanan publik, keberlanjutan usaha dan lingkungan, dengan menerapkan prinsip-prinsip Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasi Pertamina, berkoordinasi dengan

 https://www.danantaraindonesia.co.id/.



Sonny H. Sayangbati


Space Iklan Bawah Halaman 1


Space Iklan Bawah Halaman 4