MPN NEWS, JAKARTA (22/8) – Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Kesatuan Pengawasan Laut dan Pelayaran (KPLP) terus memperkuat kesiapsiagaan dan kapasitas sumber daya manusia dalam menghadapi berbagai kondisi kedaruratan di laut, khususnya kecelakaan dan kebakaran kapal.
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia sangat mengandalkan transportasi laut sebagai urat nadi perekonomian dan konektivitas antarpulau. Di sisi lain, tingginya aktivitas pelayaran juga menghadirkan potensi risiko keselamatan maritim yang membutuhkan kesiapan personel Search and Rescue (SAR) yang responsif dan terkoordinasi.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur KPLP, Triono, mengatakan bahwa berbagai insiden kecelakaan dan kebakaran kapal yang terjadi menjadi pengingat penting bagi seluruh pemangku kepentingan untuk terus meningkatkan kesiapan menghadapi situasi darurat di laut.
“Kebakaran di tengah laut menciptakan situasi yang sangat ekstrem, mulai dari eskalasi api yang cepat, kepulan asap beracun di ruang terbatas, kepanikan massal, hingga kondisi abandon ship. Karena itu, setiap personel harus memiliki kemampuan, kesiapan, dan pemahaman prosedur yang benar dalam menghadapi kondisi tersebut,” ujar Triono saat membuka kegiatan Pembekalan Personel Search and Rescue (SAR) di Perairan dan Pelabuhan Tahun Anggaran 2026.
Menurutnya, terdapat tiga tantangan operasional utama yang harus menjadi perhatian dalam pelaksanaan operasi penyelamatan di laut. Pertama, kecepatan response time. Keselamatan jiwa penumpang sangat bergantung pada kecepatan petugas dalam merespons kejadian dan melaksanakan proses evakuasi.
Kedua, koordinasi dan komunikasi gabungan. Keberhasilan operasi SAR sangat ditentukan oleh sinergi antarpemangku kepentingan, mulai dari KPLP, Basarnas, TNI AL, Polairud, hingga kapal-kapal niaga yang berada di sekitar lokasi kejadian.
Ketiga, penerapan SOP keselamatan dan evakuasi medis darurat. Penanganan korban dalam situasi kedaruratan membutuhkan personel dengan kualifikasi teknis serta ketahanan fisik dan mental yang teruji.
“Peningkatan kapasitas SDM SAR tidak dapat hanya mengandalkan rutinitas harian. Kita membutuhkan upskilling atau pembaruan keterampilan serta penyamaan persepsi terhadap tindakan yang harus dilakukan secara berkala,” kata Triono.
Lebih lanjut ia menjelaskan, pembekalan personel SAR ini memiliki arti strategis untuk meningkatkan kesiapsiagaan operasional. Para personel diharapkan mampu menguasai teknik dasar pertolongan di air, penggunaan alat keselamatan, serta manajemen evakuasi dasar secara tepat dan sesuai prosedur.
“Selain itu, kegiatan ini juga ditujukan untuk memperkuat sinergi dan komunikasi antara tim SAR gabungan dan sarana pendukung di lapangan serta mengoptimalkan penerapan SOP penyelamatan, baik dalam upaya meminimalkan risiko kecelakaan kerja bagi petugas maupun dalam mengoptimalkan penyelamatan jiwa,“ jelasnya.
Melalui kegiatan pembekalan ini, Direktorat KPLP berharap kapasitas dan profesionalisme personel SAR semakin meningkat, sehingga mampu mendukung pelaksanaan operasi keselamatan dan penyelamatan di laut secara optimal dan efektif.
Adapun kegiatan Pembekalan Personel SAR yang berlangsung selama tiga hari dari tanggal 19–21 Agustus 2026 ini, menghadirkan narasumber dari Basarnas, Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Tanjung Priok, Direktorat KPLP, serta Pangkalan PLP Kelas I Tanjung Priok.
Selain memperoleh pembekalan melalui materi dari para narasumber, para peserta juga mengikuti praktik lapangan yang dilaksanakan di Tribuana Dive Center dan Pangkalan PLP Kelas I Tanjung Priok.(SHS/MPN)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar